Antara Tanjung Panjang dan Panua: Catatan Singkat dari Cagar Alam yang Terlupakan

Oleh: Danny Rogi  -

 

“Kawan….pernah dengar Cagar Alam  Tanjung Panjang?”

“Belum….dimana ya?

“Masa ….di Pohuwato!”

“Ah yang bener….yang kita tahu di Pohuwato cuma ada Cagar Alam Panua”.

Setelah mereka ceritakan tentang kondisinya, yang membuat  penasaran menggelembung dalam rasa, maka saya putuskan untuk berangkat kesana. Berikut kisahnya.

Kunjungan ke CA Tanjung Panjang dan CA Panua yang terletak di kabupaten Pohuwato propinsi Gorontalo dilaksanakan pada tanggal 12 – 13 Juni 2007. Kunjungan ini terlaksana atas kerjasama dari teman-teman Japesda Gorontalo, khususnya MR Catur dan teman-teman LSM lokal di kota Marisa, khususnya Ansar. Berikut informasinya.

CA Tanjung Panjang (Selasa, 12 Juni 2007)

Kami memasuki Tanjung Panjang dari desa Huyula kecamatan Randangan. Desa Huyula dapat ditempuh dari kota Marisa selama kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor, sedangkan kota Marisa bisa dicapai dari kota Gorontalo kurang lebih 4 jam. Selain desa Huyula, desa-desa lainnya yang berada di sekitar Tanjung Panjang adalah desa Himbodu, Patuhu, dan Sido Rukun, serta beberapa desa lainnya. Semua desa ini, termasuk juga CA Tanjung Panjang masuk dalam kecamatan Randangan. Desa Huyula baru berdiri pada tahun 1994. Sebelumnya menjadi bagian dari desa Motolohu. Luas desa Huyula 6.560 km2, dengan jumlah KK sebanyak 485, diantaranya terdapat 290 KK miskin. Jumlah penduduk lebih dari 2000 jiwa.

Sesampainya di desa Huyula, kami bertemu dengan ayahanda (kepala desa), sekretaris desa, dan beberapa penduduk lainnya.Kami sampaikan maksud dan tujuan berkunjung. Baik ayahanda, sekdes, maupun penduduk lainnya, tampaknya tidak begitu akrab dengan istilah cagar alam. Mereka tidak mengetahui keberadaan cagar alam. Yang mereka tahu adalah di Tanjung Panjang terdapat hutan lindung. Namun mereka tidak tahu secara pasti  luasan serta batas-batasnya. Mereka juga menyampaikan bahwa selama ini di Tanjung Panjang tidak ada yang menjaga. Tidak ada petugas jaga maupun pos jaga.

Selanjutnya kami ditemani oleh sekdes dan salah seorang penduduk ke Tanjung Panjang. Kurang lebih 15 menit perjalanan dengan motor kami tempuh untuk sampai ke tempat perahu ditambatkan. Kami melewati pemukiman masyarakat desa Huyula, kemudian melewati perkebunan masyarakat yang didominasi oleh kelapa dan jagung. Setelah itu kami tiba di satu tempat yang begitu terbuka. Ternyata tempat terbuka dan berpetak-petak itu adalah pertambakan garam masyarakat setempat.

Menurut beberapa penduduk yang kami temui di tempat ini, pertambakan garam sudah ada sejak tahun 1971. Di lokasi ini sudah ada sekitar 30an orang penambak garam, dan masih akan bertambah lagi. Setiap orang memiliki lahan tambak sekitar 6 hektar. Kurang diketahui secara pasti berapa sesungguhnya areal ini yang sudah dijadikan tambak garam. Sejauh mata memandang yang terlihat tambak semua. Umumnya penambak garam adalah orang Gorontalo. Garam yang dihasikan dijual ke Marisa, bahkan sampai ke kota Gorontalo. Harga Garam per karung (50an kg) Rp. 17500,- Di lokasi ini juga ada pabrik garam, namanya Dua Maleo.

 

Selain tambak garam, di daerah ini juga banyak terdapat tambak bandeng dan udang. Dan kabarnya areal yang sudah terbuka menjadi tambak bandeng dan udang ini lebih luas dari tambak garam. Tidak ada data yang pasti tentang luasannya. Namun ada beberapa informasi yang disampaikan penduduk tentang tambak bandeng dan udang. Tambak udang dan bandeng di daerah ini baru dimulai pada tahun 2002. Kebanyakan penambak udang dan bandeng ini adalah warga keturunan Bugis yang sudah menetap di daerah ini. Sebagai contoh pemilik tambak terbesar di tempat ini adalah Daeng Haji Nompo dari desa Patuhu. Dia memiliki tambak pribadi seluas 100 hektar, kabarnya bersertifikat. Informasi lainnya bahkan mengatakan bahwa  diaSeluruh lahan itu dia dapat dengan jalan membeli atau sewa dari lahan milik masyarakat setempat. Karena begitu luas areal tambak yang Haji Nompo miliki, sampai menimbulkan kecemburuan dari warga asli setempat. Pemilik tambak lainnya adalah Haji Anwar Jufri. Lahan yang dia miliki sekitar 78 – 100 hektar. 50 m hektar yang dia miliki diperoleh dengan jalan kontrak dari lahan masyarakat setempat. Sebelumnya dia hanya memiliki lahan seluas 28 hektar. Pemilik tambak lainnya adalah Haji Cender, sekitar 10 – 20 hektar dan Haji Caroda, juga sekitar 10 – 20 ha. memiliki tambak sampai seluas 500 hektar.

Menurut pengakuan dari beberapa warga asli setempat (orang Gorontalo), kebanyakan warga turunan Bugis lebih berhasil atau sukses dalam berbisnis tambak bandeng dan udang karena mereka lebih gigih dan ulet dalam berusaha, ditambah lagi memiliki modal (uang) yang lebih banyak. Untuk usaha tambak udang dan bandeng, keuletan dan modal berperan samaLahan tambak harus sekurang-kurang seluas 5 hektar. Kurang dari itu akan rugi. Lahan seluas 5 hektar dapat memuat 21000 bibit yang di taruh dalam 1 hektar. Sering dengan umur dan besar badan, maka akan dipindah ke tempat lainnya, begitu seterusnya prosesnya. Jika dirawat dengan baik dapat dipanen dalam jangka waktu 6 bulan. Hasilnya akan dipasarkan ke Makasar. Di daerah sekitar Tanjung Panjang, yang dikenal dengan desa tambak adalah desa Patuhu dan desa Sido Rukun, karena hampir sebagian penduduknya menggantungkan hidup kepada tambak. penting.

Setelah selesai berdiskusi, kami mengambil foto-foto dan titik koordinat dengan GPS. Terus terang, kami tidak tahu apakah di tempat ini sudah masuk dalam kawasan CA Tanjung Panjang. Seluruh area tambak berbatasan dengan mangrove atau hutan bakau. Di beberapa lokasi terlihat hutan bakau yang sudah rusak ditebangi, mungkin untuk dijadikan tambak lagi.

Di lokasi ini laut belum tampak sama sekali. Selanjutnya kami berjalan ke pinggir hutan bakau yang arealnya sudah digenangi air. Kami naik perahu katinting mengikuti jalan air yang kiri kanannya di penuhi oleh hutan bakau yang terlihat cukup rapat. Lebar jalan air ini bervariasi antara 3 – 8 meter, bahkan kadang-kadang lebih.

Di satu tempat kami melihat di tengah kerimbunan bakau, terdapat satu bangunan rumah kayu baru didirikan. Samar-samar terlihat di balik kerimbunan bakau  terdapat areal hutan bakau yang sudah ditebangi. Tidak jelas seluas apa, karena terhalangi oleh kepadatan hutan bakau di tempat itu.

Akhirnya setelah  sekitar 15 menit, sampai juga kami di muara. Tampak laut terbentang luas. Dari muara kami mengambil jalur ke kiri. Kami akan menuju lokasi yang menjadi ujung dari Tanjung Panjang. Katinting menyusuri pinggiran pantai, sehingga pasir pantai terlihat jelas berwarna perak keabuan.

 

Menurut cerita sekdes, dulunya sepanjang pantai ini menjadi lokasi peneluran Maleo. Namun semua berakhir di tahun 80an seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pemukiman, khususnya disebabkan proyek transmigrasi penduduk di kawasan ini. Keberadaan  satwa lain yang masih ada di tempat ini adalah Babihutan, ular, buaya, biawak, serta berbagai jenis burung air. Untuk vegetasi, jelas terlihat dominan adalah bakau.

Setelah sekitar 30 menit menyusuri laut, maka kami tiba di lokasi Tanjung Panjang. Perahu pun bersandar. Pemandangan miris langsung terlihat. Tampak tumpukan kayu bakau dalam jumlah yang cukup besar, sudah terpotong-potong dan siap dijual. Ada sebuah pondok sederhana (sabua) dengan seorang laki-laki beserta anak perempuannya yang masih kecil.

Sekdes kemudian berbicara dengan bapak itu dalam bahasa Gorontalo. Dan ini kelemahan saya. Saya tidak mengerti isi percakapannya. Yang pasti, menurut mereka, kayu bakau ini dijadikan sebagai kayu bakar untuk kemudian dijual ke Marisa dengan harga Rp. 1250 per ikat.

Selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 15 menit ke tempat yang menjadi ujungnya Tanjung Panjang. Di tempat ini terdapat satu sabua yang ditinggali sepasang suami istri. Kami berkenalan. Mereka berasal dari Marisa.

Mereka di Tanjung Panjang hanya untuk mencari makan. Setiap sabtu minggu mereka kembali ke Marisa untuk menjual hasilnya. Selain itu bertemu anak dan keluarga. Mereka juga mengambil air tawar untuk dipakai minum dan mandi, serta keperluan lain untuk dibawa kembali ke sabua mereka di Tanjung Panjang. Begitu mereka menjalani hidup. Di ujung Tanjung Panjang, mereka mencari ikan dengan jala. Berbagai jenis ikan yang mereka dapat kemudian diolah menjadi ikan garam.Dalam 1 minggu dapat diperoleh ikan garam sampai lebih dari 30 kg. Harga 1 kg ikan garam (sekitar 20 ekor) mencapai Rp. 15000,-

Selain ikan garam, mereka juga bekerja mengumpulkan nener. Pekerjaan ini hanya dilakukan pada bulan tertentu, yaitu antara bulan Maret sampai September. Harga nener per mata, kalau lagi bagus dapat mencapai 45 perak. Paling rendah 15 perak.Mereka dapat mengumpulkan nener mencapai 20000 mata per hari. Dengan bahagianya mereka bercerita, bulan maret 2007 lalu, mereka dapat uang sebesar 1 juta rupiah, hanya dengan bekerja mengumpulkan nener selama 3 hari.Dalam hati saya berkata, “memang orang kalau mau berusaha, rejeki itu bisa datang dari mana saja”. Nener-nener ini dibawa ke penampung di Paguat untuk selanjutnya dikirim ke Palu.

Kami juga memperoleh informasi dari mereka, bahwa yang menjadi masalah atau ancaman di lokasi ini adalah pengeboman.Maksudnya mencari ikan dengan jalan mengebom satu lokasi perairan di laut. Biasanya pengeboman sering dilakukan di saat musim sulit ikan. Ketika musim sulit ikan tiba, hampir tiap bulan mereka melakukan pengeboman di perairan Tanjung Panjang.Pelaku sebut saja Ti D dan Ti T, bekerjasama dengan Pak B, oknum polisi di Marisa, yang berperan sebagai penampung.

Kami berjalan-jalan di sekitar lokasi tersebut, mengambil titik koordinat dan foto-foto. Dari tempat ini, terlihat cukup jelas kepulauan Una-una dengan puncak gunung Colo nya.

Setelah itu kami kembali ke lokasi katinting ditambatkan dan berlayar kembali menuju batas cakrawala.  Sebenarnya kami ingin berkeliling lebih jauh lagi untuk mengeksplor Tanjung Panjang, tapi karena bensin yang tidak mencukupi, maka kami memutuskan untuk pulang dan berjanjiakan datang kembali kemudian.

Dari pencarian melalui Google, hanya didapat dua informasi menyangkut CA Tanjung Panjang, dan amat sedikit infonya. Melalui web nya PHKA, justru CA Tanjung Panjang tidak ada dalam daftar cagar alam yang ada di Indonesia. Sedangkan di web nya Dephut, melalui fasilitas search nya, didapat satu informasi tentang CA Tanjung Panjang, yang sama dengan salah satu info dari Google (Google juga dapat dari situs Dephut). Jadi dari informasi itu dikatakan bahwa CA Tanjung Panjang seluas 3000 hektar, ditetapkan oleh keputusan Menhut No 573/Kpts-II/1995 pada tanggal 30 oktober 1995. Nah yang aneh sekaligus lucu (ngga lucu sebenarnya dari sisi konservasi), kabarnya BKSDA Sulut sendiri baru tahu belakangan (beberapa tahun kemudian setelah ditetapkan…2003?) bahwa Tanjung Panjang itu adalah cagar alam di bawah kewenangan mereka. Mereka cuma tahu CA Panua!

Bagaimana dengan CA Panua? (Rabu, 13 Juni 2007)

Tidak kalah memprihatinkan!

Setelah menyelesaikan beberapa urusan hari rabu pagi itu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Rencananya kami akanNamun karena hujan, kami baru bisa berangkat ke Panua setelah makan siang. Dari arah Marisa kami langsung bertemu dengan batas CA Panua…SELAMAT DATANG DI CA PANUA. singgah di CA Panua untuk melihat lokasi peneluran Maleo.

Kami mengambil foto-foto dan titik koordinat. Terlihat secara jelas, bagaimana pemekaran wilayah dan pesatnya pembangunan daerah menekan CA Panua.

Sebagian kecil area Panua, yang berada di pesisir pantai selatan, dibelah oleh jalan trans Sulawesi. Padahal wilayah ini dari sisi konservasi amat penting karena pernah menjadi tempat salah satu lokasi peneluran Maleo terbesar diSulawesi. Lokasi peneluran yang berada di pantai, dengan koridor berupa hutan bakau dipotong melintang oleh jalan ini.

Kalau melihat kondisi koridor, dugaan saya Maleo masih dapat mengatasi rintangan dan beradaptasi dengan keadaan ini.Artinya Maleo masih dapat bolak balik dari hutan ke lokasi peneluran dan sebaliknya kembali menuju hutan dari lokasi peneluran. Tapi, mengapa Maleo di Panua semakin berkurang?

Jika kita perhatikan namanya, CA Panua, berarti di tempat ini dulu memang amat banyak Maleo.

Setelah menyelusuri jalan trans yang membelah Panua, akhirnya terlihat Pos Panua. Pos ini terletak di bagian ujung CA Panua lainnya. Berbatasan dengan desa Panua, salah satu desa yang berada di sekitar CA Panua.

Sampai di pos, kami langsung berhenti untuk minta ijin dan kalau bisa ditemani ke lokasi peneluran. Ternyata pos lagi kosong.Anak itu kemudian berinisiatif mencari petugas. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya kedua polhut datang. Kami pun berkenalan dan berbincang-bincang. Menurut seorang anak yang tinggal dekat situ, petugas polhut sedang ada urusan di tempat lain.

Kawasan seluas 45575 hektar, yang ditetapkan sejak tahun 1992 hanya dijaga oleh 3 orang petugas. Dua orang sebagai staff dan satu orang bertindak sebagai kepala resort. Banyak permasalahan yang ditemui, selain kurangnya petugas jika dibanding luasnya kawasan, masalah lainnya adalah pertambangan dalam kawasan, perambahan,illegal logging, perburuan, dll.

Bagaimana dengan Maleo dan lokasi penelurannya?

Sepeninggal almarhum Pak Gani, maka yang melanjutkan adalah cucunya Pak Gani. Namun sudah 6 bulan ini kegiatan pengumpulan telur tidak jalan, karena cucunya Pak Gani lagi sakit. Jadi saat ini sudah tidak ada lagi yang mengelola lokasi peneluran. Menurut polhut, pondok jaga di lokasi peneluran masih lumayan baik, hanya tempat penangkaran telur (Hatchery) yang sudah rusak. Mereka bilang masih ada kunjungan Maleo, sekitar 2-3 pasang perhari.

Kami memutuskan membatalkan ke lokasi peneluran, mengingat hari semakin sore. Perjalanan kami masih panjang untuk sampai ke kota Gorontalo. Kami bilang lain waktu akan kembali. Mereka sampaikan terimakasih atas kunjungannya, dan berpesan agar kami dapat membantu menyelamatkan Panua.

Dalam perjalanan pulang, rekan saya berkata dengan nada menggugat, “Guna apa pemerintah menetapkan satu kawasan menjadi kawasan lindung kalau kemudian dibiarkan dan tidak dijaga?” Saya hanya membisu diam terpaku, menatap langit yang semakin membiru seiring dengan berjalannya sang waktu.

Banyak hal menarik di sepanjang perjalanan yang kami temui sehubungan dengan penggunaan nama Maleo atau Panua. Selain yang sudah dikenal seperti cagar alam Panua, lainnya adalah desa Panua, BUMD Panua Lestari, pabrik garam Dua Maleo, cottage Panua dan cottage Maleo, dan terakhir terbaca di spanduk yang terpasang di jalanan, Perlombaan Marching Band memperebutkan Piala Maleo…..teringat satu pepatah yang cocok menggambarkan keberadaan burung Maleo di Pohuwato dan Boalemo……”Jauh di mata dekat di hati!!!” 

 

Manado, 12 Juli 2007

Danny Rogi

CIMO

Kabar CIMO dari Kampung Pindang – Kabupaten Sangihe

Kabar CIMO dari

“Kendaraan CIMO harus dikirim terlebih dahulu dengan kapal f[...]

Bersama CIMO di Kawangkoan Barat untuk Lingkungan

Bersama CIMO di

Kecamatan Kawangkoan Barat merupakan pemekaran dari Kecamata[...]

Kabar dari CIMO di Sulawesi Utara

Kabar dari CIMO

12 April 2012, Setelah Minahasa Utara, kali ini CIMO mengunj[...]

CIMO : Sosialisasi dan penyadartahuan di Desa Pinilih

CIMO : Sosialis

Desa Pinilih merupakan salah satu desa yang terletak di kaki[...]

Peluncuran CIMO : “Mobil Pembawa Informasi Lingkungan”

Peluncuran CIMO

Acara peluncuran ini dilaksanakan sebagai rangkaian dari pam[...]

Ekowisata

Langkah Awal Membangun Jaringan Ekowisata

Langkah Awal Me

Oleh: Edyson Maneasa (CELEBIO)  - Pagi itu langit cer[...]

Bahoi, Merintis Mimpi Menuju Desa Wisata Bawah Laut

Bahoi, Merintis

Birunya laut dan hijaunya hamparan hutan mangrove adalah pem[...]

Pengelolaan lansekap

Langkah Awal Membangun Jaringan Ekowisata

Langkah Awal Me

Oleh: Edyson Maneasa (CELEBIO)  - Pagi itu langit cer[...]

No thumbnail available

Binerean Integr

Goal: To establish a condusive environment to prepare for co[...]

Energi Terbarukan

Likupang Barat, Dimembe, dan Tombulu melaksanakan Penyegaran

Likupang Barat,

Walaupun kegiatan PNPM LMP telah memasuki injury time (saat-[...]

Marsidi Kadengkang, Penerima Manado Post Award 2011

Marsidi Kadengk

Kegiatan ekspedisi foto selama 12 hari yang di selenggarakan[...]

CIDA Awards untuk Pak Marsidi

CIDA Awards unt

Pak Marsidi Kadengkang kembali mendapatkan penghargaan setel[...]

Mereka Tak Berharap Pada PLN

Mereka Tak Berh

Bunyi putaran kincir air di sebuah bangunan sangat sederhana[...]

Konservasi kemitraan

Celebio Fasilitasi Jaringan Komunitas di 3 Kabupaten Sulut

Celebio Fasilit

Tomohon, Cybersulut.com – Celebes Biodiversity (Celebio) mer[...]

Ekspedisi Foto 12 hari: Mengeksplorasi desa-desa PNPM-LMP di Sulawesi Utara

Ekspedisi Foto

PNPM-LMP Sulawesi Utara baru saja menggelar kegiatan akbar b[...]

Pengelolaan spesies

1st International Maleo Conference

1st Internation

Manado, 24-26 Maret 2010

Diselenggarakan oleh: Kelompo[...]

Maleo 4000

Maleo 4000

Pada tanggal 28 Mei 2007, Wildlife Conservation Society - In[...]

Opini

Konservasi Keanekaan Hayati Sulawesi

Oleh: John Tasirin  - Sulawesi adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena m[...]

Tags
Arsip
CeleBio
Alamat

Jl. Sea Lingk. IV No. 8
Kel. Malalayang I
Kec. Malalayang
Kota Manado
Sulawesi Utara
Telp: (0431) 833434
Email: informasi@celebio.org